Sudah sejak lama aing mendambakan bisa jalan2 sekaligus hunting foto ke suatu daerah eksotik, tapi sayang sekali kesempatan itu jarang datang ato aing lebih dahulu terserang rasa malas.
hingga suatu saat (weekend lalu tepatnya) beberapa orang blogger menawarkan aing tuk ikut jalan2 dan hunting photo ke daerah garut selatan, menjambangi beberapa pantai di sana. Ajakan ini seperti ajakan2 lainnya yang datang ke aing, selalu mendadak. Pada kasus ini aing ditanyakan kesediaan ikut pergi siang hari dan akan berangkat malam harinya
.
Dengan berbagai pertimbangan yang tentu saja aing kurang pikirkan masak2, terutama masalah biaya
, maka setujulah aing tuk bergabung dengan rombongan ini. salah satu alasannya adalah aing tau salah satu tujuan mereka adalah pantai santolo, yang pernah aing kunjungi beberapa taun lalu dalam rangka ekskursi meteorologi. Pantai santolo ini dulu begitu bersih, sepi dan eksotik (lebih detail bisa dibaca pada sisa postingan ini).
DISCLAIMER: Membaca postingan ini mungkin akan menyita waktu anda yang berharga, oleh karena itu mohon mempertimbangan dengan masak2 sebelom anda melangkah lebih lanjut, karena aing tidak bisa mengembalikan waktu anda yang terbuang ketika anda membaca postingan ini
Oke… enough talking introduction, let’s get to the point.
How to get there an what happens along the trip
Santolo terletak di daerah pameungpeuk kabupaten garut. Kecamatan pameungpeuk sendiri terletak di daerah selatan kota garut. Untuk menuju ksini tentu saja lebih mudah apabila kita datang dari kota garut (ya iya lah, masa harus ke indramayu dulu). Karena aing berangkat dari kota Bandung, sedangkan yang lain dari kota Jakarta, maka diputuskan lah aing cegat mereka di Cileunyi. Mereka berangkat dari Jakarta skitar pukul 21.00 (aslinya sih katanya mereka berangkat pukul 20.00, tapi bus nya tawaf keliling kp. rambutan dulu 3 kali
)Setelah melalui koordinasi yang berkesinambungan dan intens (lebay) akhirnya aing pun dapat naik ke dalam bus yang mereka naiki dari Jakarta di Cileunyi tepat pada pukul 00.00. Dari cileunyi aing cukup membayar 10.000 rupiah saja, sedangkan dari Jakarta sebesar 35.000 (bis ekonomi AC). Entah karena saat itu jalanan kosong ato memang supir bis sangat mengenal medan dan dapat melajukan bis dengan kecepatan tinggi tanpa rem (lebay lagi) akhirnya kami sampai di kota garut (alun2 tarogong) skitar pukul 00.45 (edan kan, cileunyi-garut cuma 45 menit *keprok2 buat si sopir*). Terima kasih banyak kpada teh “bunda” okky salah seorang blogger garut yang sudi menerima kami untuk beristirahat dan bermalam sebelom melanjutkan perjalanan keesokan harinya.

Keesokan harinya aktifitas dimulai skitar pukul 07.00 pagi dengan sarapan kupat tahu di salah satu titik kota garut, kalo tidak salah nama jalannya jalan patriot yang ada hotel intan “something”. Setengah porsi kupat tahu hanya seharga 3000 rupiah saja
. Kenapa setengah? karena satu porsi-nya cukup besar bagi aing dan mempertimbangkan akan melakukan perjalanan panjang dan melelahkan juga menghebohkan (lagi2 lebay), kami memutuskan tuk mengurangi sedikit porsi makan kami pagi itu. Perjalanan diteruskan menuju terminal guntur menggunakan angkutan kota (setelah sebelumnya tentu saja poto2 di salah satu tugu yang entah namanya apa). Dari terminal guntur menuju pantai santolo ada beberapa opsi jurusan kendaraan yang bisa digunakan. Bisa memakai elf jurusan pameungpeuk lalu diteruskan memakai angkutan pedesaan, atau bisa juga menggunakan jurusan cikelet yang nantinya bisa diteruskan dengan berjalan kaki saja. Dalam hal ini kami menggunakan jurusan cikelet, karena memang diarahkan oleh supir angkot kepada kenek elf (doh). Kami mulai bergerak dari terminal guntur sekitar pukul 08.30 dan (lagi2) kendaraan yang kami tumpangi “harus” memutar terminal sekali lagi untuk mencari penumpang *tepok jidat* (ada apa dengan angkutan di indonesia?? *sebuah pertanyaan yang mungkin susah dicari jawabannya). Setelah melewati perjalanan panjang, melelahkan, menguras tenaga dan cukup menyakitkan fisik juga mental aing (kalo ini harus lebay, malah aing punya satu quote baru : naik elf itu perih jendral). Waktu tempuh perjalanan kali ini sekitar 4 jam, dengan biaya sebesar 25.000 rupiah per-orang. Sepanjang perjalanan kami disuguhi jalanan berkelok, tanjakan curam, juga turunan panjang diselingi pemandangan perkebunan teh yang cukup menyejukkan mata. Singkat cerita kami tiba di Pantai Santolo sekitar pukul 13.00, ternyata elf yang kami tumpangi mengantarkan kami sampai tempat tujuan, jadi kami melalui pintu masuk kawasan wisata pantai santolo tanpa membayar (yang entah ada tarifnya atau tidak)
.
Pantai Santolo

Sesampainya di sini, rasa lelah yang mendera selama perjalanan langsung hilang ketika kami disuguhkan pemandangan alam pantai santolo yang sangat mempesona (maap melebay lagi). Langit cerah berwarna biru terang dihiasi sedikit awan menaungi lautan luas yang terbentang tanpa batas, deburan ombak menghantam bibir pantai membawa suara yang menentramkan hati. Sungguh sebuah kenikmatan menikmati ciptaan sang Maha Kuasa, Allah SWT (ayo semua bilang Subhanallah).
Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari penginapan, kalo waktu dulu pertama kali aing kesini menginap di mess Lapan, kali ini kami tidak puna pilihan kecuali mencari penginapan umum yang tersebar sepanjang pantai. Kami lalu menjatuhkan pilihan kepada sebuah penginapan yang terletak di pinggir pantai milik bos dedi yang kemungkinan salah satu juragan di sana
, kami berempat menyewa sebuah kamar besar dengan 2 bed seharga 200.000 rupiah permalam. kondisi kamar lumayan lah, kamar mandi dalam dengan air tawar yang cukup dan mengalir terus. Setelah urusan penginapan beres, lanjut kita dengan urusan perut. Diputuskanlah utk memesan ikan krapu bakar, tumis kangkung, sambel kecap dan tidak ketinggalan nasi hangat. Setelah dibagi 4 orang, aing bayar makan siang ini 15.000 rupiah sajah.
Setelah urusan perut beres, saatnya urusan memanjakan mata. Lalu berjalanlah kami berempat menuju pulau santolo melihat dan mengabadikan pemandangan di sana. pulau ini sepertinya tidak berpenghuni, pantainya dihiasi gugusan karang yang tersebar sepanjang garis pantai.


Matahari Tenggelam di Pantai Santolo
Jalan2 ke pantai dengan tujuan hunting photo, pasti tidak akan melewatkan momen matahari tenggelam ato yang dalam bahasa internasionalnya sering disebut sun set. Begitu juga dengan kami, ah kali ini biarlah gambar yang bercerita, karena gambar dapat bercerita lebih dari 1000 kata


Eksplor Kamera di malam hari
Sehabis makan malam dengan mie instan (ya mie instan, anda tidak salah baca ko), aing mengajak yang lain tuk “sedikit” bermain2 dengan cahaya dan kecepatan rana, sayang donk punya gadget dengan fitur selangit tapi hasilnya cuma gitu2 doank, hehehe. Sayangnya si aki (sebutan aing tuk kamera aing) sekarat, baterenya habis, sedangkan aing cuma bawa dua baterai baru, dan di santolo ga ada yang jual batere sekelas alkaline
.

Matahari terbit di puncak guha (gua. red.) dan Ranca buaya
Tidak ada kendaraan dari santolo ke ranca buaya ternyata sodara2, alhasil kami memutuskan tuk menyewa sebuah angkutan pedesaan plus supir + pa udin si guide mistis
. Mengeluarkan biaya 200 ribu rupiah, meluncurlah kami menuju ranca buaya selepas subuh. Tiba di puncak guha skitar pukul 05.30, mentari telah berada sedikit di atas ufuk, meskipun sedikit telat lagi2 kami tidak kecewa, pemandangan disini sangat memanjakan mata dan batin. Singkat cerita lihatlah foto2 ini:



Puas berfoto2 di puncak guha (ceritanya sih puas, padahal batere dua kamera dah tewas) kami lalu meluncur ke pantai ranca buaya, kondisi pantai di sini, serupa dengan pantai yang ada di pulau santolo, berkarang dan berbatu2. Sebuah pemandangan unik lainnya bagi mata kami
. DIsini kami sarapan + makan siang dengan mie instan lagi (anda tidak salah baca lagi ko, kami memang sepertinya terikat dengan mie instan pada perjalanan kali ini) dilengkapi dengan 3 batok es kelapa muda
.
Kembali ke Kota
Lagi2 aing punya pengalaman buruk dengan elf, ga perlu diceritakan lebih lanjut. singkat cerita elf ini membunuhku (arti sebenarnya). Ongkos elf pameungpeuk garut sebesar 20 ribu, kami naik elf pukul 14.15 sampe garut pukul 17.30. Setelah melewati perjalanan panjang dan liburan yang melelahkan, aing dan rombongan dijamu oleh salah seorang blogger di kota garut yang notabene salah seorang adik kelas rombongan kami. Sungguh terharu aing disuguhi gule kambing, teh manis hangat dan pisang molen. Makasih lany
. Sambutan ini benar2 berasa seperti tetesan air di padang pasir yang gersang (melebay tentu saja). Setelah mendapat tenaga kembali, kami lanjutkan perjalanan ke ibukota propinsi jabar (aing) dan ibukota negara RI (3 lainnya). Karena aing berencana turun di Cileunyi (tp karena ada control di cileunyi maka aing turun di rancaekek). Ongkos garut – rancaekek 5 ribu sajah, ada cerita juga disini, tadinya aing dikasih kembalian uang 5ribu rupiah (ongkos garut-jakarta 45 ribu bis patas ac), tp gara2 aing bilang mo turun di cileunyi n ga bisa, kalo mau pun di rancaekek dan aing mengiayakan si kenek ngasih lagi duit 40 ribu
, sepertinya beliau lupa udah ngasi duluan 5 ribu rupiah, hehehe.
Di perjalanan aing tertidur, tapi dalam tidur itu aing merasa bahwa bis ini ko ga berasa berjalan, dan benar saja setelah 2 jam perjalanan, kami masih ada di seputaran garut, macet total di nagrek sodara2
. alhasil aing baru sampe rumah skitar pukul 23.30.
Concluding Remarks
Perjalanan kali ini melelahkan tapi juga sekaligus menakjubkan, banyak hal yang terjadi di dalamnya, baik itu yang menyedihkan, menegangkan, menyakitkan, membahagiakan, menenangkan, menginspirasikan, dan lain2 (anda bisa tambahkan sendiri kalo anda mau). Banyak yang bisa aing petik tuk aing pelajari di sini, kata siapa bersenang2 ga bisa belajar? I learn about trust, i learn about calculation, i learn about photography, but the most important is: i learn about friendship (cozy).
Talking about friendship, aing belom sekalipun menyebut siapa teman berpetualang aing kali ini. Dan ini lah mereka:

ki-ka: "aing"belgaman, aciteritory.co.cc, dhodie.com, akuratu.blogspot.com
One common from us all:
we love to blog
we meet because of blog,
we make this trip because of blog,
we take photo because of blog,
but the most important is we became friend because of blog.
Thank you

TO

Credit photo n Models to Achie, Dhodie n Ratu a.k.a quinie
Thx guys for being lovely and amazing partners in this trip. You guys
.
—–
Cerita ini ditulis sebagian di perjalanan kereta jakarta-bandung dan dituntaskan di kampus tercinta
Halda aditya signin out
——